Gambar

Maaf… bukan maksud saya ingin kembali tenggelam ke dalam masa lalu yg memang sedikit kurang menyenangkan, tapi semua ini terjadi begitu saja tanpa saya mau. Jemari tangan ini serentak menari menorehkan barisan kata, ketika pagi ini, diantara buku-buku usang di dalam kardus itu, saya temukan sebuah buku berharga terselip diantaranya.
Buku Diary masa lalu saya.
hmmmm… di setiap lembar buku Diary ini tertulis lengkap sejengkal demi sejengkal langkah-langkah saya menyusuri jalan berbatu yg saya rasakan ndak pernah ada ujungnya dalam hidup ini. Mulai dari ketika saya masih tinggal di desa, mengayuh sepeda butut puluhan kilometer, melewati jalanan tak beraspal, melintasi areal persawahan, menyebrangi sungai kecil, berangkat ke sekolah setelah usai membantu emak menjajakan gorengan di pasar, hingga akhirnya saya berhasil lulus dari SMP itu, dan kemudian pergi merantau ke Surabaya mencari kerja, menjadi kacung seorang pengusaha, bangun sebelum subuh menyapu seluruh halaman rumah, menyiapkan makan buat anjing-anjingnya, memberi makan pada burung-burung piaraannya, lalu mencuci mobilnya, mengelap motor anak-anaknya, baru setelah itu saya berangkat ke sekolah dengan nggandol bis kota ataupun truk-truk pengangkut barang yg kebetulan melintas, semua saya tulis lengkap dalam buku Diary ini.

Entah mengapa, menulis adalah satu kegiatan yg ndak akan pernah dapat di pisahkan dari kehidupan saya. Saya ndak akan pernah bosan dengan aktifitas yg satu ini.
mbah gendeng, mbah gendeng, mbah gendeng, mbah gendeng, mbah gendengDulu… setiap apapun yg terjadi dalam keseharian saya, selalu saya abadikan di lembar-lembar Diary ini. Buat saya, Diary ini adalah separuh dari jiwa saya. Apapun pasti akan saya lakukan untuk melindunginya dari jamahan tangan-tangan yg ndak bertanggung-jawab. Bahkan dulu, pernah saya berantem hebat mengadu nyawa hanya gara-gara buku Diary ini dilempar ke dalam tong sampah oleh salah seorang teman saya ketika masih menjadi preman di Bungurasih.

Malam itu… setelah seharian wara-wiri mengikuti laju-laju roda bis kota, ngamen sana ngamen sini, kami semua melepas lelah di sudut utara terminal Bungurasih. Salah satu tempat dimana biasanya kami ngumpul bersama.

Seperti biasa salah satu teman yg biasa kami panggil Hanter (karna wajah dan perawakannya memang mirip sama si Steve McQueen, pemeran utama dalam film The Hunter) mengajak ‘acara’ yaitu minum-minum, mabok, tapi saya selalu menolak karena memang saya ndak suka minum minuman keras, dan lagian penghasilan saya di hari itu sedang minim, hanya pas buat makan nanti malam dan sarapan besok. Nha kalo uang yg ndak seberapa ini saya ikutkan dalam ‘piring terbang’ itu, terus nanti saya mau makan apa?? Sayapun menolak ajakan itu secara halus dengan bahasa terminalan yg memang terkesan kasar,
“Sepurane Cak, aku gak oleh duit dino iki, aku gak isok melok urun.”
Begitu kalimat yg saya ucapkan waktu itu. Yg intinya saya minta maaf ndak bisa ikut nyumbang, karna memang saya ndak dapat uang hari itu. Tapi rupanya jawaban saya itu ndak membuat si Hanter merasa puas, tapi justru malah membuat dia tersinggung dan marah, ndak percaya lalu menggeledah tas saya yg kebetulan isinya cuma buku dan alat-alat tulis. Karena ndak mau ribut, sayapun membiarkan saja dia melakukan itu, lagian saya juga sudah mencium bau alkohol begitu menyengat keluar lewat deru nafasnya. Tapi tanpa saya sangka dia mulai kelewatan, mengeluarkan buku Diary itu dan memperlihatkannya sama teman-teman sambil mengejek saya. Sayapun berusaha merebutnya kembali tapi dia malah melemparnya ke dalam tong sampah. Ndak bisa saya tahan lagi, amarah sayapun memuncak. Saya hadiahkan dia satu bogem mentah tepat di bagian mukanya, dan Hanterpun lalu membalasnya, hingga perkelahian itupun ndak bisa dihindarkan lagi. Saya benar-benar tersinggung waktu itu. Kalo saja dia hanya mengolok-olok saya karena masih suka membawa-bawa buku Diary, saya ndak akan pernah tersinggung. Tapi dia kemudian membaca isinya keras-keras sampai teman-teman yg lain mentertawakan saya. Lalu kemudian, ketika Diary itu saya rebut, malah dibuangnya ke dalam tong sampah. Siapa yg ndak marah cobak?? Duel hebatpun ndak terelakkan lagi, saling pukul, saling tonjok, saling cekik hingga akhirnya kami di lerai teman-teman setelah sama-sama bonyok dan mengeluarkan pisau lipat masing-masing yg selalu terselip di balik pinggang.
Huuff… kalo saja perkelahian itu ndak dipisah, mungkin darah segar akan segera membasahi areal itu. Dan semuanya hanya gara-gara satu hal yg sepele yg begitu memalukan menurut sebagian orang. Tapi saya ndak peduli. Buat saya, Diary ini adalah bagian dari nafas saya. Apapun pasti akan saya lakukan untuk melindunginya. Intinya, jangan pernah mencoba untuk menghalangi keinginan menulis saya.

hmmmm… Diary ku sayang… maafkan saya karena telah lalai menjagamu, hingga kamu sempat tersisihkan, terjepit diantara buku usang. Bukan maksud saya mencampakkanmu tapi sekali lagi maaf, saya sudah menemukan penggantimu yg tentu saja lebih keren, lebih gaya dan pastinya lebih bisa menyalurkan hasrat menulis saya yg memang ndak akan pernah mati. Buat saya, menulis adalah bagian dari hidup saya. Saya sudah terlanjur berjanji bahwa saya ndak akan pernah berhenti untuk menulis dan saya akan berusaha menjadi orang yg lebih baik dengan menulis.

Be A Great Person

Yup itulah nama pengganti dari buku Diary itu. Sebuah blog yg mampu menyalurkan hasrat menulis saya. Sebuah tempat yg bisa saya manfaatkan untuk berbagi pengalaman, menuliskan sebagian dari kisah masa lalu saya, dengan harapan semoga ini semua bisa menjadi penyemangat buat para pembacanya, bahwa suatu saat nanti, kita pasti bisa berubah menjadi orang yg lebih berguna. Kalo dulu saya hanyalah seorang copet, siapa tau setelah menulis ini nanti saya bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Jangan pernah menyerah..!
Hidup ini tekad dan perjuangan Kawan. Ibarat bersepeda, kita ndak akan pernah jatuh kecuali kalau kita berhenti untuk mengayuhnya.

Yaah… meski sampai saat ini, keinginan saya untuk memiliki sebuah laptop, masih belum terpenuhi, saya akan terus menulis dan menulis walaupun untuk menerbitkan satu artikelpun, saya harus pergi ke warnet malam-malam, ataupun merelakan jempol tangan saya bengkak dan lecet-lecet karena kebanyakan nulis dari HP, saya ndak peduli. Sekali lagi, hidup ini adalah tekad dan perjuangan. Ibarat bersepeda, kita ndak akan pernah jatuh kecuali kalau kita mencoba untuk berhenti mengayuhnya. Untuk memenuhi satu keinginan itu, kita pasti butuh satu perjuangan.
Ayo kawan… tulislah apapun yg ingin kamu tulis. Jangan pernah kau halangi hasratmu untuk menulis, karna dengan menulis, segala sesuatunya akan terasa lebih baik dari sebelumnya.
Ayo semangat..!! Seperti semangat saya yg ndak akan pernah bisa mati.

“Boleh saja suatu saat nanti saya mati, dan semua tau itu juga pasti, tapi saya hanya akan mati sebagai orang yg hebat. Yg mana ketika mati, orang hebat akan selalu berusaha untuk bangkit kembali. Ia akan berusaha untuk meninggalkan sesuatu yg mungkin dapat berguna bagi orang lain setelah dia, nanti.”