Tags

, ,

Kisah Halimah

Gambar

 

 

 

Kisah Halimah

Halimah ketika itu berusia 29 tahun, tertegun melihat seorang perempuan yang datang menghampirinya dengan air mata menetes dipipinya. Perempuan itu lalu memeluk Halimah sambil berkata, “Akhirnya kita bisa bertemu juga.”

Belu

m habis heran Halimah, perempuan tadi justru menambah lagi keheranannya. Perempuan tadi mengatakan bahwa dirinya adalah kakak kandung Halimah, yang telah sekian lama mencari keberadaan adik bungsunya yang hilang entah kemana.

Dengan perasaan yang tidak karuan, Halimah mempersilahkan perempuan yang mengaku kakaknya tadi untuk masuk kerumah petakannya. Perempuan tadi lalu memperkenalkan diri, ia bernama Lenny, ia lalu mengeluarkan beberapa foto yang menampilkan dirinya, kakak-kakak Halimah yang lain, orang tua dan Halimah sendiri. Lalu mulailah ia berkisah tentang perjalanannya mencari adik bungsunya itu.

Singkat cerita, Lenny merasa lega, akhirnya perjuangannya boleh berhasil dan hatinya sungguh bahagia. Berbeda dengan Halimah, ia tidak tahu apakah dirinya bahagia dapat bertemu dengan keluarganya kembali, dikarenakan keterkejutannya pada saat itu. Namun jauh dalam hatinya tiada henti ia mengucapkan syukur kepada Allah SWT, karena doanya diqobul. Memang itulah yang selama ini ia pertanyakan, “Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan keluarga hamba yang sesungguhnya.”

Setelah 29 tahun usianya, akhirnya Halimah mengetahui keluarga kandungnya. Sebab sejak usia 4 tahun, ia diangkat anak oleh sepasang suami istri yang tidak kunjung diberi keturunan.

Empat tahun kemudian, Halimah diberi kesempatan berjumpa dengan keluarga besarnya dikampung halamannya Bitung, Sulawesi Utara.”Ya Allah terima kasih untuk kesempatan yang Engkau berikan pada hambamu ini. Ternyata aku memiliki keluarga besar”, demikian kata Halimah ketika ia turun dari Kapal Lambelu, di Pelabuhan Bitung. Keluarganya yang menjemputnya datang dengan 3 buah bus mini.

Pencarian Lenny akan adiknya berawal dari ucapan mendiang ayahnya, yang ketika diakhir masa hidupnya memanggilnya dan berkata, “Lenny, selama ini ada sesuatu yang Ayah sembunyikan darimu, kakak-kakakmu dan keluarga besar kita. Adik bungsumu sebenarnya tidak meninggal ia masih hidup, karena waktu itu Ayah tidak sanggup membayar biaya rumah sakit, maka terpaksa Ayah tinggalkan dia, dan menganggap dia sudah mati. Carilah dia,… cari sampai ketemu.”

Dengan didukung suami, anak-anak dan keluarga besar; mulailah Lenny melakukan pencarian. Dan demikianlah setelah satu tahun perjuangan dan pengorbanannya, Lenny akhirnya berhasil menemukan adik bungsunya yang tadinya dianggap telah meninggal.

1. HALIMAH BAYI

Halimah adalah bungsu dari 4 bersaudara, sebenarnya mereka berlima namun kakak kedua Halimah wafat diusia 6 tahun. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang nelayan, yang bila tidak melaut ia bekerja sampingan menjadi kuli bangunan. Sedangkan ibunya adalah pemungut bulir beras di pelabuhan. Bila kapal pembawa beras yang berkarung-karung datang dari pulau Jawa, ibunya memunguti bulir beras yang tercecer keluar dari karungnya, dari pagi hingga sore hari. Bila karungnya sudah cukup berat untuk dipanggulnya, pulanglah ia kerumahnya di lereng Gunung Dua Saudara.

Begitu kerasnya kerja ibu Halimah hingga akhirnya jatuh sakit. Ketika itu usia Halimah baru 8 bulan, saat ibunya akhirnya harus meninggalkannya selama-lamanya. Ibu Halimah meninggalkan anak yang masih kecil-kecil, putra tertua saat itu baru berusia 10 tahun, sedangkan adik-adiknya baru berusia 6 dan 3 tahun. Bisa dibayangkan betapa repotnya sang ayah mengurus mereka semua dengan ekonomi yang tidak menentu.

Sang ayah yang malang akhirnya menyerahkan anak-anaknya kepada saudara-saudaranya untuk dapat diurus. Tidak terkecuali Halimah, namun hal itu tidak berlangsung lama. Di usia 1 tahun, Halimah jatuh sakit, sementara saat itu di Bitung, belum ada rumah sakit yang memadai. Akhirnya oleh ayahnya, Halimah dibawa ke rumah sakit di kota Tomohon, yang jaraknya 8 jam dari Bitung, saat itu.

Setelah beberapa hari dirawat, Halimah kembali sehat. Ayahnya hendak membawanya pulang, namun ia tidak sanggup membayar biaya rumah sakit yang sungguh besar. Dengan berat hati terpaksa ayahnya tidak dapat membawanya pulang, jauh dalam lubuk hatinya ia menangis, “Maafkan aku anakku, aku terpaksa meninggalkanmu disini, semoga Tuhan memeliharamu.”

Ayah Halimah lalu pulang, ketika tiba di Bitung, sanak keluarganya menanyakan bagaimana kondisi Halimah. Dengan berat hati ayahpun berbohong, “Halimah telah meninggal dan dimakamkan disana oleh pihak rumah sakit.”

Oleh karena ucapan ayah Halimah itulah, tidak satupun keluarga menyadari bahwa Halimah sebenarnya masih hidup, ia tergolek tak berdaya di sebuah rumah sakit di Tomohon, kota yang cukup jauh dari Bitung.

2. HALIMAH KECIL

Demikianlah ayah Halimah tidak pernah datang untuk menjemput Halimah lagi. Sampai usia 1 tahun setengah, Halimah hanya dirawat oleh para jururawat. Hingga suatu waktu, Kepala RS jatuh iba kepada Halimah, balita malang ini dibawanya pulang dirawat dan diasuhnya hingga usia 3 tahun, sekaligus sebagai pancingan bagi istrinya agar dapat hamil. Setelah istrinya berhasil hamil, Halimah diberikan kepada sepasang suami istri yang juga ingin punya anak. Sekitar 1 tahun, ia dirawat pasutri ini dan lagi-lagi ia berpindah tangan ke pasutri lainnya, karena pasutri sebelumnya berhasil memiliki momongan. Di pasutri yang ketiga inilah berakhir perjalanan Halimah sebagai ‘pemancing kehamilan’, karena hingga Halimah dewasa, mereka tidak kunjung diberikan keturunan.

Kala itu usia Halimah menginjak 4 tahun, ketika pasutri yang ketiga dan terakhir yang mengasuh dan merawatnya, memboyong Halimah ke Jakarta. Karena ayah angkatnya yang baru ini mendapat kesempatan kerja yang lebih baik.

Halimah dirawat dan diasuh dengan baik, ia disekolahkan dan diberi pendidikan agama Nasrani yang baik. Tidak hanya Halimah saja yang diangkat anak oleh pasutri ini, keponakan ibu angkatnyapun diambil dan diangkat anak oleh mereka. Jadilah Halimah memiliki seorang adik perempuan.

Dengan seijin Allah SWT, Halimah memeluk Islam di usianya 28 tahun, setahun sebelum ia bertemu Lenny, sang kakak kandung yang mencarinya. Kini Halimah telah berumah tangga dan memiliki anak perempuan yang menginjak remaja. Namun ia tidak pernah lupa berterimakasih kepada kedua ayah dan ibu angkatnya, yang dengan penuh kasih sayang dan ketulusan hati, telah merawat dan membesarkannya.

Halimah senantiasa mendoakan kedua orangtua angkatnya walau telah berbeda keyakinan,
“Ya Allah, ampunilah kesalahan dan dosa orangtua angkatku, berikanlah tempat yang baik bagi mereka kelak di akhirat. Sehatkan dan limpahkanlah rizqi bagi mereka, sebab sesungguhnya hamba tiada mampu membalas segala kasih sayang dan ketulusan mereka selama membesarkan hamba. ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO.”

Sumber : Goresan Hikmah