Tags

, ,

Mike Clercx: Mukjizat Alquran Mengantarkannya pada Islam

Gambar

 

 

 

Mike Clercx: Mukjizat Alquran Mengantarkannya pada Islam

Jumat, 29 Juli 2011, tiga hari menjelang Ramadhan 1432 H, Mike Clercx (23 tahun) menorehkan sejarah baru dalam hidupnya. Pemuda berkebangsaan Belanda itu memutuskan untuk menjadi seo

rang Muslim.

Seusai shalat Jumat, Mike yang mengenakan kopiah hitam, baju koko, dan celana berwarna putih duduk bersila di hadapan sejumlah jamaah Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat. Di antara jamaah yang hadir adalah kerabatnya di Indonesia, sedangkan sebagian lagi jamaah yang kebetulan menunaikan shalat Jumat di masjid tersebut.

Sesaat sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat, Mike tampak sedikit gugup. Ketika detik-detik itu tiba, dengan fasih dan lantang ia mengikrarkan dirinya sebagai pemeluk Islam. ‘’Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,’’ ucapnya.

Sejak itu, Mike resmilah menjadi seorang Muslim. Ketegangan yang sempat menghinggapinya berubah menjadi kebahagiaan. Rona kegembiraan terpancar dari wajahnya. Senyum yang mengembang di wajahnya menandakan betapa leganya perasaan Mike.

‘’Lega,’’ ujar Mike kepada wartawan Republika, Friska Yolanda yang ikut menyaksikan ikrarnya menjadi seorang Muslim. Senyum dan kebagiaan pun terpancar dari wajah-wajah jamaah yang turut menyaksikan kebulatan tekad seorang pemuda Eropa menjadi seorang Muslim. Satu per satu jamaah pun menyalami dan mengucapkan selamat kepada Mike.

***

Mike berkenalan dengan Islam sejak tiga tahun silam, saat menginjakkan kakinya di Indonesia. Awalnya, pemuda yang masih berkuliah itu sama sekali tak mengenal agama terbesar kedua di dunia itu. Menurut dia, Islam yang dikenalnya di negeri Kincir Angin sangatlah berbeda dengan yang ditemuinya di Indonesia.

‘’Mereka lebih menutup diri dan dianut oleh komunitas tertentu,’’ ujar Mike. Namun, sejak kedatangannya ke Indonesia, pandangannya terhadap Islam mulai berubah. Ternyata, umat Muslim di negeri yang pernah menjadi jajahan nenek moyangnya itu justru terbuka.

Adalah keluarga Herina Fauza, sahabatnya di Indonesia, yang membuka mata Mike untuk mengenal Islam. Sambutan keluarga Herina yang ramah dan bersahabat menghapus pandangan negatif Mike terhadap Muslim yang ada dalam pikirannya.

“Mike merasa senang ketika keluarga saya menyambutnya seperti keluarga sendiri. Karena memang seperti itulah seharusnya seorang Muslim menyambut tamu mereka,“ ujar Herina.

Perlahan namun pasti, Mike mulai tertarik untuk mengenal Islam. Mahasiswa jurusan Bisnis IT itu amat tertarik ketika mendengar cerita-cerita mengenai sejarah Islam dari Herina.

Menurut Mike, sahabat yang dikenalnya dari forum diskusi di internet itu banyak bercerita tentang sejarah Islam, seperti bagaimana Siti Hajar memperoleh air di tanah kering MaKkah untuk putranya Ismail, atau tentang kisah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Kisah-kisah itu membuat rasa ingin tahu Mike terhadap Islam semakin bergelora. Diam-diam, ia mulai mencari kebenaran kisah yang diceritakan Herina. Ia melakukan banyak studi literatur untuk memperoleh kebenaran tersebut.

Mike makin dibuat penasaran, ketika Herina juga menceritakan mengenai keilmiahan Alquran. ‘’Dia bercerita bahwa dalam Alquran pun terdapat khasiat madu atau penjelasan ilmiah lainnya yang banyak baru diketahui di era modern,’’ tutur pria bertubuh jangkung itu.

Untuk membuktikannya, Mike mulai membuka-buka Alquran dan mencoba memahami terjemahannya. Hidayah Allah SWT mulai terpancar dalam hatinya. Ia merasakan kagum terhadap agama samawi ini. Namun, ketika itu dirinya tidak berani membaca Alquran lebih banyak.

‘’Saya sempat takut nanti salah interpretasi,’’ tuturnya. Penelitiannya terhadap Islam berlangsung cukup lama. Mike membutuhkan waktu sekitar 2,5 tahun sebelum akhirnya benar-benar yakin untuk menjadi seorang Muslim. Selain membaca literatur-literatur keislaman, Mike juga banyak berdiskusi mengenai agama Islam bersama beberapa ustaz. Semua itu dilakukannya selama berada di Indonesia.

***

Mike dikenal sebagai pria yang mandiri dan berpendirian teguh. Ketika akan masuk ke dalam sesuatu, ia harus memahami terlebih dahulu apa yang akan dijalaninya. Begitu pula dengan Islam. Ia harus benar-benar memahami Islam terlebih dahulu, sebelum menjadi bagian darinya.

Mike pun belajar berpuasa dan shalat. Untuk gerakan dan bacaan shalat. Mike belajar dari ayah Herina. Tidak ada kesulitan yang berarti ketika Mike belajar shalat. Dia juga bertemu dengan seorang ustaz di Al-Azhar untuk mengajarinya shalat. Maka setelah menjadi Muslim, kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikannya sebagai seorang Muslim tak lagi menjadi masalah.

Begitu pula dengan berpuasa. Pada tahun pertama kedatangannya ke Indonesia, Mike sempat berpuasa selama tiga hari. Ia menjalaninya dengan lancar. Tahun berikutnya, Mike kembali ikut berpuasa, meskipun belum benar-benar memeluk Islam. Kali itu, ia berhasil menamatkan puasanya sebulan penuh.

Saat itu, Mike sedang menjalani intensif di dalam satu non government organisation (NGO) yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup selama enam bulan. Kebetulan, ketika itu masuk bulan Ramadhan. Atasinisiatif sendiri, ia pun ikut berpuasa.

“Dia ikut bangun ketika sahur dan makan di warung sederhana di dekat kostnya,“ tutur Herina. Maka Ramadhan pertama Mike sebagai seorang Muslim pada tahun ini bukanlah hal yang berat, karena ia sudah mengalami dua kali Ramadhan. Bahkan, ia pernah menamatkan puasa satu bulan penuh.

Paling-paling, Mike hanya sedikit mengeluhkan rasa capek yang dirasakan ketika berpuasa sambil bekerja. Jauh sebelum menjadi Muslim, Mike sudah mencoba dan mengetahui apa saja kewajiban seorang Muslim. Ia mengaku tidak ingin ketika menjadi seorang Muslim tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Mike tidak ingin setengah-setengah dalam menjalankan sesuatu. Ia tak ingin menjadi Muslim yang setengah-setengah. Pemuda itu ingin menjadi Muslim seutuhnya. Lalu bagaimana Mike memutuskan menjadi seorang Muslim?

‘’Keinginan itu muncul beberapa bulan lalu,’’ kata Mike. Hatinya merasa yakin dengan kebenaran ajaran Islam. Tidak ada lagi keraguan dalam diri Mike terhadap Islam. Dan tiga hari sebelum Ramadhan, ia pun mengucapkan syahadat. Dua pekan pertamanya sebagai seorang Muslim ia habiskan di Indonesia.

Setelah itu, Mike harus kembali ke Belanda untuk menyelesaikan kuliahnya di Universitas Avans, Belanda. Lalu bagaimana tanggapan orangtua Mike di Belanda? Mike mengaku tidak pernah secara langsung mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang Muslim kepada keluarganya.

Sejak masuk Islam, Mike banyak berubah. ‘’Saya tidak lagi merokok, dan memakan babi,’’ paparnya. Orangtua pun menerima keputusan Mike untuk memeluk Islam. Kini, sang ibu mulai memisahkan hidangan untuk Mike yang tidak lagi mengonsumsi babi. ‘’Mereka akan mengerti,’’ ucap Mike sembari tersenyum.

Sumber : Ruang Diskusi Ch Olivia Wijaya